Apa Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional?

Asuransi merupakan pilihan tepat untuk mengelola uang dalam jangka waktu yang panjang. Asuransi juga digunakan untuk mengantisipasi berbagai macam risiko mulai dari risiko kesehatan, risiko kecelakaan, risiko pencurian, dan risiko lainnya.

Asuransi bisa menangani berbagai macam risiko tersebut melalui premi asuransi yang dibayarkan setiap bulan.

Ada banyak perusahaan asuransi di Indonesia, program-program asuransi yang dikeluarkan juga beragam. Ada asuransi yang berjenis konvensional, ada juga asuransi berjenis syariah.

Asuransi konvensional sering menjadi perdebatan karena berkaitan dengan riba. Sehingga, asuransi berbasis syariah menjadi pilihan masyarakat.

gambar perbedaan asuransi syariah dan konvensional

Pic Source: Pixabay.com

Perbedaan Asuransi Syariah dan Konvensional

Untuk memilih mana produk asuransi yang terbaik, maka simak penjelasan mengenai perbedaan asuransi syariah dan konvensional di bawah ini.

1) Definisi

Perbedaan asuransi syariah dan konvensional yang paling mendasar terletak pada definisinya.

Berdasarkan DPS atau Dewan Pengawas Syariah, asuransi syariah didefinisikan sebagai usaha untuk melindungi dan tolong menolong sejumlah orang. Usaha untuk melindungi dan menolong ini dilakukan dengan investasi dalam bentuk tabaru atau aset.

Perbedaan asuransi syariah dan konvensional yang mana pada asuransi yang berbasis syariah memiliki perjanjian atau akad untuk menghadapi berbagai macam risiko dengan menerapkan pola pengembalian.

Sehingga, sistem yang diberlakukan pada asuransi syariah adalah sistem yang mana para pemilik polis asuransi akan menghibahkan atau menginvestasikan sebagian atau seluruh dana yang dimiliki.

Dana yang dihibahkan tersebut akan digunakan untuk membayar klaim asuransi jika ada pemegang polis asuransi syariah yang membutuhkan.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa dalam asuransi yang berbasis syariah perusahaan hanya berperan sebagai pengelola dana saja.

2) Prinsip Dasar

Perbedaan asuransi syariah dan konvensional yang kedua adalah prinsip dasar yang digunakan. Prinsip asuransi syariah berdasarkan pada aturan syariat Islam dan kajian ekonomi Islam. Sedangkan, prinsip asuransi konvensional berdasarkan pada prinsip ekonomi konvensional yang merujuk pada sistem riba.

3) Investasi Dana

Perbedaan asuransi syariah dan konvensional yang ketiga adalah sistem investasi dana yang digunakan pada asuransi syariah dan asuransi konvensional. Pada asuransi syariah, sistem investasi dana yang digunakan berbasis pada mudhabaroh.

Dengan sistem mudhabaroh maka pembagian keuntungan antara perusahaan asuransi dan pihak pemegang polis asuransi sama rata dan seimbang. Sehingga, terbebas dari riba dan tidak ada pihak yang dirugikan.

Sedangkan, sistem investasi dana yang digunakan dalam asuransi konvensional menggunakan sistem riba. Dalam sistem ini hasil akhir dari perhitungan bunga asuransi akan menguntungkan pihak perusahaan.

Secara garis besar, asuransi syariah menerapkan sistem sharing of risk yang mana pihak pemegang polis asuransi dan perusahaan asuransi berbagai risiko tersebut. Sedangkan, pada asuransi konvensional menerapkan sistem transfer of risk yang mana risiko tersebut dibebankan pada salah satu pihak saja.

4) Aturan Akad

Perbedaan asuransi syariah dan konvensional yang lain terletak pada aturan akad yang terjadi antara pihak perusahaan asuransi dan pihak pemilik polis asuransi.

Aturan akad yang terjadi pada asuransi yang berbasis syariah menggunakan akad tabbaru atau akad hibah. Sedangkan, pada asuransi yang berbasis syariah menggunakan aturan akad yang menjurus pada sistem jual beli yang biasa.

5) Dewan Pengawas

Peran pihak pengawas sangatlah penting dalam dunia asuransi. Perbedaan asuransi syariah dan konvensional terletak pada peran pengawas.

Perusahaan asuransi yang berbasis syariah memiliki pihak pengawas yang disebut DPS atau Dewan Pengawas Syariah. Dewan Pengawas Syariah akan mengawasi jalannya perusahaan asuransi apakah berjalan sesuai syariat Islam atau tidak.

Sementara itu, perusahaan asuransi berbasis konvensional tidak memiliki dewan pengawas yang mengawasi jalannya perusahaan.

6) Sistem Pembayaran

Perbedaan asuransi syariah dan konvensional juga terletak pada sistem pembayaran premi asuransi. Perusahaan asuransi syariah menggunakan dana kebajikan atau dana tabbaru untuk membayarkan premi asuransi para pemiliknya.

Sedangkan, pada perusahaan asuransi yang menggunakan sistem konvensional maka dana yang digunakan untuk membayar premi asuransi ke pemiliknya adalah dana dari rekening perusahaan.

7) Status Kepemilikan Dana

Perbedaan asuransi syariah dan konvensional terletak pada status kepemilikan dana para pemegang polis asuransi.

Berdasarkan akad yang terjadi antara pihak perusahaan asuransi dan pemegang polis asuransi, status kepemilikan dana asuransi syariah adalah milik semua peserta asuransi. Perusahaan asuransi syariah memiliki peran untuk mengelola dana asuransi yang dibayarkan oleh semua pemegang polis asuransi.

Akan tetapi, pada perusahaan asuransi yang konvensional, pengelolaan hingga pengalokasian dana asuransi milik para peserta asuransi dikelola sepenuhnya oleh pihak perusahaan. Sehingga, para pemilik polis asuransi hanya tidak bisa ikut campur dalam pembagian keuntungan atau pengalokasian dana asuransi.

8) Sistem Pelayanan dan Klaim Asuransi

Perbedaan asuransi syariah dan konvensional terletak pada sistem pelayanan dan klaim asuransi yang ditetapkan oleh perusahaan.

Contoh sistem pelayanan dan klaim sistem asuransi syariah bisa terlihat ketika peserta asuransi menjalani rawat inap di perusahaan. Dalam hal ini, tidak hanya pemegang polis asuransi saja yang bisa menggunakan fasilitas tersebut. Seluruh anggota keluarga bisa mendapatkan fasilitas asuransi tersebut.

Selain itu, pembayaran tagihan rumah sakit yang timbul bisa dibayarkan secara cashless atau menggunakan kartu. Cicilan premi asuransi yang dibayarkan jumlahnya juga sedikit karena tidak ada bunga yang dikenakan.

Sedangkan, perbedaan asuransi syariah dan konvensional pada perusahaan yang konvensional hanya pemegang polis asuransi saja yang bisa merasakan fasilitas tersebut. Biaya untuk premi setiap bulannya juga lebih mahal karena ada bunga.

9) Status Dana

Perbedaan asuransi syariah dan konvensional yang selanjutnya terletak pada status dana yang diinvestasikan oleh para pemilik polis asuransi.

Pada perusahaan asuransi yang masih konvensional ada istilah yang disebut dengan “dana hangus”. Dana hangus akan terjadi pada dana asuransi yang tidak kunjung diklaim oleh pemegang polisnya.

Contohnya, si A memilik dana asuransi kematian dengan jangka waktu tertentu. Akan tetapi si A tidak meninggal dunia hingga masa berakhirnya asuransi kematian tersebut. Alhasil, dana asuransi kematian milik si A akan menjadi dana hangus dan tidak bisa dicairkan.

Baca juga: Informasi Bunga Deposito BRI

Baca juga: Info Lengkap Kartu Kredit Bukopin

Jika terjadi dana hangus maka pihak yang diuntungkan tentu saja pihak perusahaan asuransi.

Namun, hal ini tidak berlaku pada asuransi yang berbasis syariah. Tidak ada istilah dana hangus dalam perusahaan asuransi yang berbasis syariah.

Sehingga, dana asuransi yang sudah melebihi masanya tetap bisa dicairkan walau ada beberapa persen dari dana tersebut yang masuk ke dalam dana kebajikan atau dana tabarru.

Dari poin-poin mengenai perbedaan asuransi syariah dan konvensional yang sudah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa asuransi syariah dan asuransi konvensional memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh kedua jenis asuransi tersebut bisa dijadikan bahan pertimbangan untuk memilih produk asuransi mana yang tepat untuk dibeli.

Sebelum membeli produk asuransi konvensional atau asuransi syariah pastikan dulu produk asuransi tersebut sesuai dengan kebutuhan.

Leave a Reply