Cara Menghitung Pajak Penghasilan Perorangan

Menjelang akhir tahun, ada tugas yang harus Anda penuhi sebagai seorang warga negara yang baik. Tugas ini adalah membayar pajak. Ya, pajak sangat penting dalam mendorong pembangunan negara mulai dari infrastruktur, subsidi, pertahanan keamanan, dan masih banyak lainnya.

Nah, dari berbagai macam pajak yang mungkin harus dipenuhi seseorang, salah satu yang penting adalah pajak penghasilan atau pajak PPh 21.

Tapi, apakah Anda masih pusing untuk menghitung berapa uang yang harus Anda sisihkan guna membayar pajak penghasilan?

Tidak perlu khawatir, mari kita bahas lebih dalam bagaimana cara menghitung pajak penghasilan guna memudahkan pekerjaan Anda di akhir tahun nanti. Cek detailnya di bawah ini!

gambar cara menghitung pajak penghasilan

Pic Source: Pixabay.com

Apa itu Pajak Penghasilan?

Pajak Penghasilan Pasal 21atau lebih disingkat sebagai PPh 21 merupakan pajak yang dibebankan terhadap perorangan pribadi atas penghasilan yang diperoleh dalam bentuk upah, gaji, honorarium, tunjangan, serta pembayaran lainnya sehubungan dengan pekerjaan, jasa, jabatan, dan kegiatannya sebagai subyek pajak dalam negeri.

Berdasarkan Peraturan DirJen Pajak No.PER-16/PJ/2016, Peraturan Menteri Keuangan No. 101/PMK.010/2016, dan No. 102/PMK.010/2016, terdapat kenaikan tarif PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) yang berlaku sejak 1 Januari 2016.

Mengetahui kenaikan ini sangat penting karena akan mempengaruhi cara menghitung pajak penghasilan atau PPh 21 yang akan disesuaikan dengan tarif PTKP tersebut.

Menyesuaikan dengan PTKP 2016, maka perhitungan PPh 21 adalah sebagai berikut:

  • Bagi wajib pajak orang pribadi sebesar Rp 54.000.000 per tahun atau setara dengan Rp 4.500.000 per bulan.
  • Wajib pajak tambahan bagi yang kawin (tanpa tanggungan) sebesar Rp 4.500.000 per tahun atau setara dengan Rp 375.000 per bulan.
  • Tambahan bagi setiap anggota keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya maksimal 3 orang di setiap keluarga sebesar Rp 4.500.000 per tahun atau setara dengan Rp 375.000.000 per bulan.

Baca juga: Cara Gampang Membuat Virtual Credit Card

Ketentuan Perhitungan Pajak Penghasilan

Untuk membantu Anda supaya lebih mudah mempelajari cara menghitung pajak penghasilan, terdapat beberapa poin ketentuan yang perlu Anda ketahui terlebih dahulu.

1) Tunjangan lain

Ini di luar gaji pokok meliputi tunjangan uang lembur, transportasi, akomodasi, dan tunjangan tidak tetap lainnya yang diberikan perusahaan menyesuaikan kebijakannya masing-masing.

2) Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)

Hal ini diatur dalam PP No. 76 tahun 2007 berkisar antara 0.24% – 1.74% disesuaikan dengan kelompok jenis usaha. Tarif umum yang biasa digunakan adalah 0.24%.

3) Biaya jabatan

Ini dihitung 5% dari penghasilan bruto sebesar maksimal Rp 500.000 per bulan atau Rp 6.000.000 per tahun.

4) Jaminan pensiun

Jaminan ini memiliki jumlah presentase sebesar 1% yang telah ditentukan oleh lembaga keuangan yang ditunjuk oleh perusahaan.

5) Penghasilan neto setahun

Ini dapat dihitung dengan 2 cara. Pertama, penghasilan neto x 12 bagi pegawai lama yang telah bekerja lebih dari satu tahun atau tepat setahun terhitung pada waktu pembayaran PPh.

Kedua, penghasilan neto x bulan bekerja bagi pegawai baru yang baru bekerja kurang dari setahun, misalkan penghasilan neto x 7 (mulai bekerja sejak Juni sampai Agustus).

6) PTKP

Ini merupakan pajak yang dihitung dengan mengurangi penghasilan bruto setahun untuk menghitung nilai Penghasilan Kena Pajak.

Rumus Menghitung Pajak Penghasilan

Di sini, kita akan belajar cara menghitung pajak penghasilan orang pribadi sebagai seorang karyawan tetap dengan contoh soal sebagai berikut. Meski terkadang pegawai pajak akan membantu Anda dalam menghitung pajak yang harus Anda dapatkan, namun akan lebih baik jika Anda mengetahui rumus dan cara menghitung pajak penghasilan.

Dengan demikian, Anda bisa mengetahui perkiraan pajak yang harus dibayar. Selain itu, dengan penggambaran contoh nyata di bawah ini diharapkan Anda bisa melakukan penghitungan pajak sendiri.

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat contoh penghitungan pajak penghasilan dalam sebuah kasus. Nantinya, Anda bisa menambah atau mengurangi pajak tersebut sesuai dengan penghasilan Anda.

A merupakan karyawan di perusahaan X dengan status menikah dan memiliki seorang anak. Istrinya merupakan seorang pegawai negeri sipil. Gaji yang diterima A per bulan sebesar Rp 10.000.000.

Perusahaan X mengikuti BPJS Kesehatan dan program pensiun bagi karyawannya. BPJS terhitung sebesar 1% dari perhitungan gaji yaitu sebesar Rp 30.000 per bulan.

Selain itu, terdapat pula premi JKK dan Jaminan Kematian (JK) sebesar 0.24% dan 0.30%. A juga membayar iuran Jaminan Hari Tua (JHT) sebesar 2% dari gajinya. Di akhir bulan September, A juga menerima uang lembur sebesar Rp 2.000.000.

Berdasarkan contoh soal di atas, maka cara menghitung pajak penghasilan atau PPh 21 dari A adalah:

  • Pertama, menghitung Penghasilan Bruto (kotor) dengan rumus gaji pokok – (tunjangan+beban premi), maka penghasilan bruto A adalah:

= Gaji pokok – (tunjangan lembur + JKK + JK)

= 10.000.000 – (1.000.000 + (0.24% x gaji pokok) + (0.3% x gaji pokok)

= 10.000.000 – (1.000.000 + 24.000 + 30.000)

= 10.000.000 – 1.054.000

= 8.946.000

  • Kedua, menghitung penghasilan neto (bersih) dalam sebulan dengan rumus penghasilan bruto – (biaya jabatan + beban iuran), maka penghasilan neto A adalah:

= penghasilan bruto – (biaya jabatan + JHT + jaminan pensiun)

= 8.946.000 – ((5% x penghasilan bruto) + (2% x gaji pokok) + (1% x gaji pokok)

= 8.946.000 – (447.300 + 200.000 + 100.000)

= 8.946.000 – 747.300

= 8.198.700

  • Ketiga, menghitung Penghasilan Kena Pajak (PKP) setahun dengan rumus penghasilan neto setahun – PTKP, maka PKP setahun A adalah:

= (penghasilan neto sebulan x 12) – PTKP

= (8.198.700 x 12) – 54.000.000

= 98.384.400 – 54.000.000

= 44.384.400

  • Terakhir, menghitung PPh 21 per bulan dengan rumus PPh terutang (sesuai dengan tariff PPh pasal 21) x PKP dibagi 12, maka PPh 21 per bulan A adalah:

= (PPh terutang (penghasilan tahunan sampai dengan 50 juta dikenakan tariff sebesar 5%) x PKP (dilakukan pembulatan ke bawah)) : 12

= (5% x 44.384.000) : 12

= 2.219.200 : 12

= 184.933

Contoh soal menghitung pajak penghasilan di atas bisa Anda terapkan secara langsung menyesuaikan dengan gaji dan beban pengeluaran Anda masing-masing. Catatan, bagi wajib pajak yang tidak memiliki NPWP maka PPh 21 di atas harus dikali dengan 120%.

Baca juga: Pajak Jual Beli Rumah dan Informasi KPR

Baca juga: Cara Menghitung PPh 21 Beserta Contohnya

Cara Mudah Menghitung Pajak Penghasilan

Bagi Anda yang merasa kesulitan mengetahui PPh21 Anda dengan cara menghitung pajak penghasilan di atas, jangan khawatir.

Kini, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) telah menyediakan aplikasi online untuk membantu menghitung, menyetor, dan melaporkan kewajiban pajak agar lebih mudah dan cepat, bahkan gratis. Aplikasi tersebut adalah OnlinePajak.

Aplikasi OnlinePajak ini membuat Anda tidak perlu lagi menggunakan cara menghitung pajak penghasilan secara manual, melainkan menggunakan excel.

Aplikasi berbasis website ini telah disesuaikan dengan peraturan terakhir, sehingga Anda tidak perlu repot-repot lagi melakukan instalasi ulang.

Dilengkapi dengan segala fitur, Anda tinggal memasukkan data gaji pokok, jumlah persentase BPJS atau iuran kesehatan lain, dan metode perhitungan gaji, maka hasil PPh 21 akan diperoleh secara otomatis dan instan.

Selain itu, aplikasi OnlinePajak juga menggunakan sistem e-Billing dan e-Filling sehingga setiap kali ada perubahan PTKP, aplikasi akan secara otomatis melakukan update.

Cara memulainya cukup dengan mendaftarkan perusahaan dan data gaji karyawan, Anda sudah bisa menghitung, menyetor, dan melapor PPh 21 secara otomatis melalui satu aplikasi terpadu ini.

Nah, tentunya Anda tidak lagi mengalami kesulitan mengenai cara menghitung pajak penghasilan lagi, bukan?

Leave a Reply